Emisi Gas Rumah Kaca (CO2, CH4, N2O) Pada Budidaya Padi Sistem Of Rice Intensification (SRI) Dan Cara Konvensional Petani Di Petak Tersier untuk mendukung Irigasi Hemat Air sebagai upaya adaptasi perubahan Iklim.
Senin, 08 Maret 2010
Lokasi:Daerah Irigasi Ciramajaya, Tasikmalaya, Jawa Barat.Konsep IWRM GWP:C. 3. EFFICIENCY IN WATER USE C.3.1. Improved Efficiency of Use.Lahan  sawah tergenang merupakan sumber beberapa gas rumah kaca (seperti; CO2, CH4, N2O) yang merupakan salah satu penyebab dari Global Warming, padahal  penggenangan pada lahan secara terus menerus dianggap sebagai suatu pemborosan pemakaian sumber daya air.... Selanjutnya...
Memahami (untuk mengatasi) Kehilangan Air PAM Jakarta
Senin, 08 Maret 2010
Gambaran Umum : Kehilangan  air  dapat  dilihat  dari  dua  sisi:  dari  sisi  kehilangan  itu  sendiri  dan  dari  sisi  jika  tidak kehilangan.  Pemahaman  dua  dimensi  ini  memberikan  kita  gambaran  bahwa  kehilangan  air merupakan wanprestasi dari  suatu proses pelayanan air secara keseluruhan. Ini penilaian dari  sisi kehilangan  air.  Sementara  dari ... Selanjutnya...
Jaringan Komunikasi Pemantau Kualitas Air (JKPKA) pada Program Kampanye Peduli Air (KPA)
Minggu, 25 Januari 2009
Studi KasusJaringan Komunikasi Pemantau Kualitas Air (JKPKA) pada Program Kampanye Peduli Air (KPA)Lokasi Jakarta, Indonesia. 2003Konsep IWRM GWP,B. PERAN-PERAN INSTITUSI (INSTITUTIONAL ROLES)B.b. Pengembangan Sumber Daya Manusia (Institutional capacity building – developing human resources)C. ALAT-ALAT MANEJEMEN ( MANAGEMENT INSTRUMENTS)C.4. Instrumen Perubahan Sosial (Social change... Selanjutnya...
Konflik Regulasi dalam Penanganan Longsoran Dinding Kaldera Bawakaraeng, Sulawesi Selatan
Senin, 08 Maret 2010
DescriptionDesain volume tampungan sedimen yang ada sekarang adalah 29 juta m3, endapan sedimen di waduk telah mencapai 61 juta m3, di sisi lain volume longsoran di kaldera masih ratusan juta m3 dan sewaktu-waktu akan menjadi aliran debris dan mengancam bangunan sungai serta masuk ke waduk. Dengan meningkatnya volume sedimen masuk ke waduk akan mengurangi kapasitas waduk. Jika hal ini tidak... Selanjutnya...
Permasalahan Air Baku dan Solusinya
Minggu, 25 Januari 2009
Judul Kasus PERMASALAHAN AIR BAKU DAN SOLUSINYANama PenulisEndah Dewi NurahmaniDirektorat Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karyaendah_nurahmani@yahoo.comGedung Dep. PU Ditjen Cipta Karya Lt. 8 Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru Jakarta 12110IWRM Tools:  A.1.c. Kebijakan yang terkait dengan SDAA.2.c. Peraturan untuk kualitas dan kuantitas airB.2.1. Kapasitas pengelolaan SDAT pada profesi... Selanjutnya...
Sistem Pembiayaan Pengelolaan SDA WS Brantas
Minggu, 25 Januari 2009 07:50
Provinsi Jawa Timur :
Sistem Pembiayaan Pengelolaan SDA WS Brantas

Lokasi : Perum Jasa Tirta I Brantas

Tool utama PSDAT

A3. Struktur pembiayaan dan insentif – Sumber pembiayaan untuk    
      memenuhi kebutuhan air
 
C7. Instrumen ekonomi  - menggunakan nilai air untuk efisiensi dan ekuitas   
C7.1 Menetapkan iuran layanan air  

Uraian

a.    Wilayah Sungai Brantas
  • Luas tangkapan hujan 11.800 km2 (25% Jawa Timur), Penduduk  18 juta (43% Jawa Timur), Curah hujan 2,000 mm/ th, Potensi air 12 Milyar m3/th, Panjang sungai  320 km.
  • Tata guna lahan : sawah 26.5 %, tegalan 22.5 %, tanaman 4.0 %, hutan 26.4 %, hunian 19.4 %, lain-lain 1.2 %
  • Investasi Rp. 7,38 trilyun untuk pengembangan SDA antara lain membangun Waduk 8 (delapan) buah untuk memasok air baku (irigasi, industri, rumah tangga), PLTA, pengendalian banjir,
  • Manfaat pengembangan SDA Brantas meliputi pengendalian banjir untuk skala periode 50 tahunan, pasokan air irigasi untuk 345,000 ha sebesar 2,400 juta m3/tahun, energi listrik 1,200 juta kWh/th, air baku untuk industri & air minum 350 juta m3/th.
b.    Sebelum 1990 semua pembiayaan pengelolaan SDA wilayah sungai Brantas didanai dari Pemerintah 100 % tanpa ada kontribusi dari pemanfaat, bahkan yang komersialpun gratis mendapatkan air.
c.    Pada 1990 Pemerintah membentuk Perum Jasa Tirta untuk menerapkan Konsep dasar Pemerintah mengenai sistem pembiayaan pengelolaan SDA wilayah sungai Brantas :
  • Untuk layanan penyediaan air baku komersial (industri, air minum, energi listrik), pemanfaat berkewajiban membayar jasa pengelolaan SDA berupa iuran Operasi & Pemeliharaan sarana dan prasarana terkait yang ditetapkan Pemerintah kepada Perum Jasa Tirta,
  • Untuk layanan publik (pengendalian banjir, pengendalian kualitas, penyediaan air baku untuk kebutuhan dasar kehidupan sehari-hari) dan penyediaan air irigasi, Pemerintah menyediakan dana jasa pengelolaan SDA berupa dana Operasi & Pemeliharaan sarana dan prasarana tekait untuk layanan publik (Public Service Obligation / PSO) kepada Perum Jasa Tirta,
  • Untuk pembangunan prasarana SDA didanai Pemerintah dan dilaksanakan sendiri oleh Pemerintah.
d.    Sampai dengan tahun 2007 konsep tersebut berhasil diterapkan dengan kondisi / catatan sebagai berikut :
  • Pemanfaat komersial (industri, air minum, energi listrik) telah membayar jasa pengelolaan SDA berupa iuran Operasi & Pemeliharaan sarana dan prasarana terkait sesuai tarip yang ditetapkan Pemerintah,
Catatan : Tarip iuran yang ditetapkan Pemerintah belum sepenuhnya cost recovery, mengingat penerapannya secara bertahap dan dengam pertimbangan bahwa di wilayah sungai yang lain masih belum diterapkan iuran serupa.
  • Pemerintah telah memberikan PSO (Public Service Obligation) kepada Perum Jasa Tirta sebagai kewajiban Pemerintah dalam pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Perum Jasa Tirta.
  • Catatan : Besaran dana PSO belum memadai dibandingkan dengan pengeluaran Perum Jasa Tirta untuk melaksanakan kewajiban Pemerintah dalam pelayanan publik
  • Pemerintah telah membangun secara bertahap prasarana SDA untuk melengkapi pengembangan SDA di wilayah sungai Brantas dengan membentuk lembaga yang melaksanakan pembangunan.

e.    Akibat kondisi (catatan) tersebut di atas, maka kinerja Perum Jasa Tirta dalam Operasi & Pemeliharaan Sarana dan Prasarana SDA WS Brantas tidak optimal, seperti tampak pada tabel berikut ini :

UraianTahun
199219931994199519961997
1998
 Pendapatan dari iuran (Milyar Rp.)9.04
10.26
11.52 16.34
17.72
19.06
21.64
 Biaya O&P (Milyar Rp.) 21.7022.80
29.10
30.60
38.70
41.40
43.10
 Derajat Ketersediaan Dana O&P (%)41.65
44.98
39.59
53.38
45.78
46.03
50.20


UraianTahun
 19992000
2001
2002
2003
2004
2005
 Pendapatan dari iuran (Milyar Rp.) 26.9928.62
29.08
32.97
38.57
45.40
55.71
 Biaya O&P (Milyar Rp.)84.1
86.1
95.1
104.4
115.1
130.6
139.1
 Derajat Ketersediaan Dana O&P (%)32.09
33.24
30.58
31.58
33.50
34.76
40.07

f.    Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan SDA wilayah sungai perlu diambil langkah rational sebagai berikut :

  • Tarip iuran Operasi Pemeliharaan disesuaikan dengan cost recovery atau kekurangannya disubsidi Pemerintah seperti halnya pupuk untuk petani,
  • Dana Public Service Obligation (PSO) disesuaikan dengan dana yang sebenarnya untuk pelayanan public sebagai kewajiban Pemerintah.

Pelajaran yang didapatkan

  1. Paradigma lama bahwa air adalah karunia Tuhan sehingga masyarakat gratis untuk mendapatkannya, telah terbukti secara bertahap bergeser pada Paradigma baru bahwa air merupakan benda social dan ekonomi.
  2. Telah terbukti pula bahwa pemanfaat komersial mau dan mampu berkontribusi untuk pembiayaan pengelolaan SDA sesuai dengan layanan yang diterima.
  3. Dalam menerapkan konsep Sistem Pembiayaan Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Brantas semua pihak perlu konsekuen terhadap kewajibannya masing-masing.

Pentingnya kasus untuk PSDAT

  1. Kasus ini dapat dipakai sebagai referensi sistem pembiayaan dalam penerapan Pengelolaan Sumber Daya air Terpadu, dimana ada partisipasi / kontribusi pembiayaan dari pemanfaat (beneficiaries pay principle)
  2. Konsep iuran Operasi dan Pemeliharaan tersebut di atas setelah terbukti dapat diterapkan di WS Brantas maka Konsep tersebut diperkuat dengan Undang-undang nomor 7 / 2004 tentang SDA berupa Biaya Jasa Pengelolaan (BJP) SDA
  3. Dengan adanya nilai air secara ekonomi, sehingga dapat digunakan sebagai dasar menerapkan efisiensi penggunaan air melalui demand management.

Kontak :
Ir. Trie M. Sunaryo, M.Eng.
Kemitraan Air Indonesia
HP 081281 85284


LAST_UPDATED2
 
More articles :

» Kearifan Lokal Tidak Bisa Cegah Degradasi Terumbu Karang

Degradasi terumbu karang yang saat ini masih terus berlangsung dan tidak lagi bisa diatasi hanya dengan kearifan lokal dan pengelolaan tradisional saja tanpa memahami dinamika ekologisnya.

» Strategi Terpadu Pengelolaan SDA Di DKI Jakarta untuk Mencegah Bencana Ekologi Perkotaan dan Krisis Air

STRATEGI TERPADU PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI DKI JAKARTA UNTUK MENCEGAH BENCANA EKOLOGI PERKOTAAN DAN KRISIS AIRPENULIS:Firdaus Ali, PhD.Badan Regulator PAM DKI, Jl. Pejompongan Raya No. 57, Jakarta 10210firdaus@jakartawater.org, +62-21-5709732 ...

» Panser Anoa Buatan Pindad Makin Gahar

Panser Anoa V2 6 x 6 buatan PT Pindad sedikit berbeda dengan versi sebelumnya dan lebih gahar.

» LoI REDD Harus Pastikan Kedaulatan Pengelolaan Hutan

Letter of Intent (LoI) REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) plus antara Norwegia dengan Indonesia harus dipastikan kedaulatan pemerintah terhadap pengelolaan hutan.

» Pengelolaan Sampah Dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air Sungai Di DKI Jakarta

Pengelolaan Sampah Dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air Sungai Di DKI JakartaStatistik Penduduk Profil Daerah DKI Jakarta Tahun 2005 menunjukkan jumlah penduduk DKI Jakarta 9.041.605 jiwa. Jumlah itu diperkirakan menjadi dua kali lipat di siang...
Copyright © 2009 Kemitraan Air Indonesia. All Rights Reserved.Powered by Joomla!
Kemitraan Air Indonesia disiapkan oleh Bpiliang | Template Praise
Komp. Dep. PU Jl. Pattimura No. 20 Kav. 7 Gd. Dirjen SDA Lt. 8, Kebayoran Baru - Jakarta Selatan
Telp. 021-739 8604, 7396616 ext. 635 Fax. 021-739 8604
e-mail: sekretariat@inawater.org, sekretariatkai@yahoo.com