Permasalahan Air Baku SPAM Bregas
Rabu, 16 Juni 2010
Nama PenulisEndah Dewi NurahmaniDirektorat Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karyaendah_nurahmani@yahoo.comGedung Dep. PU Ditjen Cipta Karya Lt. 8 Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru Jakarta 12110IWRM Tools: A.1.c. Kebijakan yang terkait dengan SDAA.2.c. Peraturan untuk kualitas dan kuantitas airB.2.1. Kapasitas pengelolaan SDAT pada profesi keairanC.2. Perancangan dan perencanaan... Selanjutnya...
Strategi Terpadu Pengelolaan SDA Di DKI Jakarta untuk Mencegah Bencana Ekologi Perkotaan dan Krisis Air
Minggu, 25 Januari 2009
STRATEGI TERPADU PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI DKI JAKARTA UNTUK MENCEGAH BENCANA EKOLOGI PERKOTAAN DAN KRISIS AIRPENULIS:Firdaus Ali, PhD.Badan Regulator PAM DKI, Jl. Pejompongan Raya No. 57, Jakarta 10210firdaus@jakartawater.org, +62-21-5709732  &  +62-21-5709723SUMMARY:Metropolitan DKI Jakarta dengan total luas area mencapai 662 km2 dengan total populasi mencapai 9,39 juta jiwa dihadapkan... Selanjutnya...
Geoscanner Untuk Mencari Sumber Air Tanah
Minggu, 25 Januari 2009
Judul Kasus Geoscanner Untuk Mencari Sumber Air TanahNama PenulisEndah Dewi NurahmaniDirektorat Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karyaendah_nurahmani@yahoo.comGedung Dep. PU Ditjen Cipta Karya Lt. 8 Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru Jakarta 12110IWRM Tools:  A.3.c. Peran sektor swastaB.2.3. Berbagi (Alih) ilmu pengetahuanLatar Belakang:Dengan semakin sulitnya keberadaan air bersih di... Selanjutnya...
Memahami (untuk mengatasi) Kehilangan Air PAM Jakarta
Senin, 08 Maret 2010
Gambaran Umum : Kehilangan  air  dapat  dilihat  dari  dua  sisi:  dari  sisi  kehilangan  itu  sendiri  dan  dari  sisi  jika  tidak kehilangan.  Pemahaman  dua  dimensi  ini  memberikan  kita  gambaran  bahwa  kehilangan  air merupakan wanprestasi dari  suatu proses pelayanan air secara keseluruhan. Ini penilaian dari  sisi kehilangan  air.  Sementara  dari ... Selanjutnya...
Operasional dan Pemeliharaan Prasarana Dan Sarana Air Minum PDAM Kab. Purwakarta
Minggu, 25 Januari 2009
Judul Kasus OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAN SARANA AIR MINUMPDAM KAB. PURWAKARTANama PenulisEndah Dewi NurahmaniDirektorat Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karyaendah_nurahmani@yahoo.comGedung Dep. PU Ditjen Cipta Karya Lt. 8 Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru Jakarta 12110IWRM Tools:  A.1.c. Kebijakan yang terkait dengan SDAA.3.a. Kebijakan-kebijakan InvestasiA.3.c. Peran sektor... Selanjutnya...
PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN PERINGATAN HARI AIR DUNIA (WORLD WATER DAY) KE-18 TAHUN 2010 PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 Juli 2010 19:59

 

PEDOMAN  UMUM PENYELENGGARAAN PERINGATAN
HARI AIR DUNIA (WORLD WATER DAY) KE-18 TAHUN 2010
“Communicating Water Qualitychalenges and Opportunities”
I. Latar Belakang
Adanya permasalahan air yang sedang dialami dunia ini telah mendorong dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian perlunya upaya bersama dari seluruh komponen bangsa dan bahkan dunia untuk dengan kebersamaan memanfaatkan dan melestarikan  sumberdaya air (SDA) secara berkelanjutan.
Pengelolaan SDA seperti cara lama yang dilakukan sendiri-sendiri atau secara terbatas oleh instansi-instansi pemerintah dan para ahli bidang air sudah tidak dapat secara efektif mengatasi permasalahan. Pengalaman menunjukkan pengelolaan SDA yang berkelanjutan tidak mungkin dapat diselesaikan sendirian oleh pemerintah dan oleh karena itu perlu mengajak para pemangku kepentingan yang lain untuk berperan aktif bersama dengan pemerintah.
Dengan kesadaran akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan baik masa kini maupun masa datang yang dibutuhkan oleh berbagai sektor, maka air merupakan urusan semua orang. Ungkapan “water is everybody business” yang telah mendunia menjadi semboyan bagi seluruh pihak dalam pengelolaan SDA.
Untuk mengingatkan kita bahwa bumi kita yang yang terdiri dari tanah dan air merupakan anugerah Tuhan yang dapat menjadi sangat rapuh bila tidak kita pelihara dengan baik dan benar, maka kita dan semua negara anggota PBB memperingati  Hari Air Dunia (World Water Day) pada tiap tanggal 22 Maret.  Peringatan ini sebagai wahana untuk memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit.
Pada Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992 melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 diterima dan sekaligus ditetapkan pelaksanaan Hari Air Dunia pada setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati sejak tahun 1993 oleh para anggota PBB yang meratifikasi Agenda 21 tersebut. Tema-tema yang dipilih tiap tahun sejak tahun 1994 meliputi:
1994: “Caring for Our Water Resources is Everyone’s Business” (Peduli akan Sumberdaya Air adalah Urusan Setiap Orang);
1995:  “Water and Woman”  (Wanita dan Air);
1996:  “Water for Thirsty City” (Air untuk Kota-kota yang Kehausan);
1997:  “The World’s Water: is There Enough ?” (Air Dunia: Cukupkah ?);
1998: “Groundwater – the Invisible Resource” (Air Tanah Sumber Daya yang Tak Terlihat);
1999:  “Everyone Lives Downstream” (Setiap Orang Tinggal di Bagian Hilir);
2000:  “Water for 21st Century (Air untuk Abad 21);
2001:  “Water for Health” (Air untuk Kesehatan);
2002:  “Water for Development “ (Air untuk Pembangunan);
2003:  “Water for Future” (Air untuk Masa Depan);
2004:  “Water and Disasters” (Air dan Bencana);
2005:  “Water for Life” (Air untuk Kehidupan);
2006:  “Water and Culture” (Air dan Budaya);
2007:  “Coping with Water Scarcity” (Mengatasi Kelangkaan Air).
2008:  “Sanitation” (Sanitasi).
2009:  “Transboundary Water; Shared Water, Shared Opportunities” (Air Lintas Batas, Berbagi Air, Berbagi tantangan).
2010:   “Clean Water for a Healthy World”.
1. Agenda 21
Meskipun Earth Summit tahun 1992 merupakan tonggak (milestone) penting, namun dimensi sosial dan lingkungan dari agenda dunia tentang air telah mulai terbentuk lebih awal yaitu pada tahun 1972 atau 2 tahun setelah dicanangkannya peringatan Hari Bumi, yaitu dalam the United Nations Conference on Human  Environment yang diselenggarakan di Stockholm. Pada konferensi ini telah dideklarasikan bahwa pencemaran air telah mencapai tingkat yang membahayakan dan diperlukan upaya untuk melindungi sumberdaya alam bumi yang mencakup udara, air, tanah, serta flora dan fauna. Dalam kurun waktu 20 tahun kemudian diselenggarakan  The Dublin Conference on Water and the Environment (1992), yang melahirkan pandangan baru dunia tentang air atau yang sekarang disebut dengan “The Dublin Principle”  dimana “sustainability” / keberlanjutan menjadi prinsip penting dalam pengembangan sumberdaya air.
Dalam perkembangannya kemudian, The Dublin Principles ini menjadi referensi dari beberapa pandangan yang saling bersaing dalam pengembangan sumberdaya air. Disatu sisi, LSM dan organisasi relawan serta organisasi “civil society” lainnya cenderung menekankan pada prinsip, “affordable, equitable, dan basic right”, sedangkan organisasi-organisasi yang berorientasi kepada aspek ekonomi lebih menekankan kepada konsep “economic value and economic good”. Yang sebenarnya bila keduanya dikombinasikan akan dapat mencapai hasil optimum bagi nilai manfaat air.
Earth Summit telah diselenggarakan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, melahirkan Agenda 21 dan pada khususnya Chapter 18 yang terkait dengan sumberdaya air yang selanjutnya menjadi tonggak penting berkembangnya prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya air.  Selain secara tegas menyetujui dan meng-adopsi The Dublin Principles kedalam Agenda 21, Chapter 18 menyatakan bahwa “ sumberdaya air perlu dilindungi dengan mempertimbangkan fungsinya dalam ekosistem akuatik maupun peranannya sebagai sumber air, dalam rangka memenuhi dan mempertemukan antara pasokan dan kebutuhan akan air untuk kegiatan manusia”. Selanjutnya adalah diterimanya “the ecosystem approach” atau “pendekatan ekosistem” sebagai pendekatan yang rasional dan ilmiah dalam pengembangan sumberdaya air.
Selanjutnya dokumen UNCED ini mengelaborasi kebutuhan untuk “mempromosikan pendekatan multisektor yang dinamis dan interaktif yang perlu dilaksanakan pada tingkatan Daerah Aliran Sungai (DAS), wilayah sungai dan sub-wilayah sungai.” Dokumen ini juga menekankan perlunya untuk melindungi, mengkonservasi dan mengelola sumberdaya air berdasarkan pada prioritas dan kebutuhan masyarakat termasuk kelompok perempuan, pemuda dan penduduk asli/setempat dalam kerangka kebijakan pengembangan ekonomi nasional. Kepada kelompok masyarakat terkena dampak diberikan peranan yang syah (legitimate) dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan. Hal yang serupa adalah, dikenalinya riparian rights atas air untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia meskipun pada sungai lintas batas negara. Diantara berbagai kegiatan yang di-identifikasi, isu-isu yang dianggap penting lainnya adalah masalah-masalah pengelolaan sungai lintas batas negara, banjir dan kekeringan, dan asesmen serta analisa atas resiko-resiko. Hal penting lainnya adalah perlunya dikenali bahwa air permukaan dan air tanah hendaknya dipandang sebagai dua elemen yang saling bergantung satu sama lain (interdependent) dalam siklus hidrologi.
Dalam peringatan Hari Air Dunia setiap negara perlu merenungkan dan menghayati arti penting Air sebagai sumber kehidupan, serta bersama-sama mengamankan upaya-upaya yang arif dan bijaksana untuk mendaya-gunakan, melestarikan dan mengamankan sumberdaya air (SDA) yang merupakan milik bersama umat manusia.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam peringatan Hari Air Dunia dianjurkan agar Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten / Kota) bersama seluruh komponen stakeholders sumberdaya air (instansi-instansi terkait, organisasi profesi terkait dengan air, para pakar, LSM, organisasi pengguna, dan sebagainya), mengadakan kegiatan yang dapat meningkatkan kesadaran manusia dalam menyebarluaskan pelaksanaan Agenda 21 untuk pengembangan dan perlindungan SDA dengan penyampaian sambutan peringatan Hari Air Dunia dari Pemerintah, mengadakan seminar, dialog, penerbitan buku, penyebarluasan pamflet, pemberian penghargaan dan kegiatan semacam yang berkaitan.
2. International Decade for Action :  Water for Life 2005 – 2015
PBB menetapkan Tahun 2005 - 2015 sebagai “Water for Life Decade” (dasawarsa air untuk kehidupan). Hal ini tepat sekali, mengingat air merupakan kebutuhan hidup yang sangat vital bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Bahkan dapat dipastikan bahwa tanpa ada air, tidak akan ada kehidupan. Disisi lain sumber daya air global dewasa ini dalam kondisi krisis yang menuju kepada keadaan genting. Sumber kehidupan ini persediaannya terbatas dan semakin hari semakin terpolusi oleh kegiatan manusia sendiri, namun masih terlalu banyak orang yang tidak mempunyai akses ke air. Sekalipun air merupakan sumber daya yang terbatas, konsumsi air telah meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir dan kita gagal mencegah terjadinya penurunan mutu air. Pada saat yang sama, jurang antara tingkat pemakaian air di negara-negara kaya dan negara-negara miskin semakin dalam. Dewasa ini 1,8 milyar penduduk dunia tidak mempunyai akses ke air bersih dan hampir dua kali dari jumlah itu tidak mempunyai fasilitas sanitasi dasar yang memadai.
Selanjutnya dalam pemanfaatan sumberdaya air tersebut perlu ditingkatkan usaha-usaha konservasi, pengendalian daya rusak, dan pendayagunaan sumberdaya air melalui pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan dan berkeadilan.
3. Clean Water for a Healthy World
Setiap tahun, 1.500 km3 lebih air limbah diproduksi dunia. Air limbah yang mestinya dapat digunakan untuk energi dan irigasi, tetapi tidak dilakukan. Di Negara-negara berkembang, lebih dari 80 % air limbah tidak didaur ulang, dikarenakan tidak adanya regulasi dan sumber daya. Pertumbuhan penduduk dan industri menambah sumber polusi baru dan menurunkan keseimbangan akan kebutuhan air bersih. Ketersediaan air untuk kesehatan manusia dan lingkungan, air minum dan irigasi, serta pencemaran air saat ini dan mendatang masih merupakan isu penting.
Dalam rangka peringatan Hari Air Dunia Ke-18 Tahun 2010 ini diharapkan Departemen / Kementerian terkait dan Pemerintah Daerah dapat mendorong dan memfasilitasi berbagai kegiatan yag merupakan implementasi Kesepakatan Bersama tersebut di atas yang dikaitkan dengan fokus dekade Water for Life, sehingga terdapat kesinambungan antara kegiatan HAD setidaknya dalm 10 tahun. Adapun stressing upaya / kegiatan dalam rangka memperingati Hari Air Dunia pada setiap tahunnya disesuaikan dengan Tema Dunia untuk tahun yang bersangkutan yang ditetapkan oleh PBB.
III. Tujuan
Hari air dunia sangat  penting untuk memusatkan perhatian masyarakat pada berbagai isu penting, diantaranya:
1. Meningkatkan kepedulian akan semakin menurunnya kuantitas dan kualitas air yang tersedia;
2. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dan pelestarian serta perlindungan sumber-sumber air;
3. Meningkatkan kerjasama antar badan-badan pemerintah, lembaga internasional, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sektor swasta dalam menjalankan program-program penyelamatan air;
4. Meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha dalam konservasi, dan pemanfaatan air dan sumber air secara bijaksana.
IV. Ruang Lingkup Kegiatan
Berikut ini adalah berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan di masing-masing daerah agar instansi-instansi pemerintah bersama dengan berbagai lembaga mitra dapat mengembangkan kampanye peningkatan kesadaran dan peduli air. Kemitraan antar pemerintah (pusat-daerah), antar sektor, sektor swasta, LSM dan organisasi profesi dapat ditingkatkan melalui kolaborasi dan kerjasama dalam berbagai program, antara lain:
1. Program advokasi mayarakat melalui media masa;
2. Program kampanye peduli air dengan fokus anak sekolah dan remaja;
3. Program penggalakan partisipasi masyarakat;
4. Peningkatan dukungan sektor swasta melalui kerjasama dan partisipasi dengan pemerintah;
5. Peningkatan kesadaran para pengambil keputusan baik di tingkat yudikatif, legislatif maupun eksekutif;
6. Lomba foto, karya tulis di media masa, dan jajak pendapat (pooling);
7. Penayangan di TV dan jumpa pers;
8. Pemberian penghargaan yang berkaitan dengan tema HAD 2009.
Berbagai bentuk kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya:
a. Advokasi melalui media masa; misalnya kolom khusus mengenai air di media cetak, slot program khusus di media elektronik, iklan layanan masyarakat, pemasangan spanduk dan poster, penyebaran pamflet, stiker, dan sebagainya.
b. Kampanye Peduli Air; di kalangan dunia pendidikan (SD, SMP, dan SMU) teritegrasi dengan mata pelajaran terkait. Di kalangan remaja (karang taruna, kelompok pecinta alam), melalui aksi nyata penyelamatan air. Kepada masyarakat umum (melalui ceramah keagamaan, dan forum-forum lain yang relevan).
c. Partisipasi masyarakat; melalui gerakan pelestarian daerah tangkapan air, penyelamatan sumber air, penerapan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya air terpadu dalam kehidupan sehari-hari (seperti pengelolaan sampah, penjernihan air, prinsip 4-R dsb), anjuran penggunaan air secara hemat (khususnya pertanian), pembuatan sumur resapan sederhana untuk type rumah tinggal, pembuatan situ, danau untuk kompleks perumahan, pembuatan reservoir dalam tanah untuk bagian perkotaan yang rendah, dll.
d. Upaya peningkatan dukungan sektor swasta melalui kerjasama dan partisipasi dengan pemerintah; seperti kontribusi terhadap penyelenggaraan peringatan HAD itu sendiri, penyelamatan sumber air (misalnya: mata air, situ dll), penyelamatan bantaran sungai, penghijauan kawasan hulu, sumur resapan, ikut serta secara aktif dalam program penyelamatan air melalui usaha bidang perhutanan yang ramah lingkungan, dll
e. Peningkatan kesadaran di kalangan Pengambil Keputusan; melalui Training of Trainers Program Pemasyarakatan Peduli Air, seminar,  lokakarya, dialog, sarasehan, dan sebagainya.
f. Pemberian penghargaan (tahun-tahun sebelumnya dinamakan ”Apresiasi HAS”); kepada para perintis, pelopor, pengabdi bidang sumberdaya air, pembina dan pendukung, serta penemu teknologi tepat guna yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air terpadu.
g. Perlombaan; untuk kalangan pers (seperti lomba karya foto dan karya tulis terbaik dikalangan media massa), di lingkungan pendidikan (seperti lomba lukis, karya tulis ilmiah remaja, cerdas cermat peduli air), dan masyarakat umum (seperti lomba bantaran sungai, pelestarian lingkungan, kebersihan, daur ulang limbah plastik).
h. Pameran; menampilkan hasil-hasil pembangunan dan pengembangan bidang sumer daya air dari segenap stakeholders, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat (LSM, Organisasi Profesi,  Dunia Pendidikan, dan sebagainya).
Diusahakan agar semua kegiatan diatas adalah kegiatan yang terkait dengan tema nasional HAD 2009.
V. Pengorganisasian / Kepanitiaan
Penyelenggaran peringatan Hari Air Dunia perlu diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pengelolaan kegiatan dan mekanisme pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam 10 tahun kedepan diharapkan  peringatan HAD lebih bersifat nasional dan menjadi gerakan yang dilaksanakan diseluruh tanah air. Untuk itu diperlukan kepanitiaan tingkat nasional dan tingkat daerah.
Kepanitiaan diharapkan merepresentasikan seluruh stakeholders bidang sumber daya air, artinya semua unsur terkait terwakili, agar kegiatan peringatan HAD menjadi milik bersma, dan menjadi tanggung jawab semua untuk mensukseskannya.
1. Tingkat Nasional.
Pelaksanaan peringatan HAD tingkat nasional diorganisasikan oleh Panitia Nasional yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Kepanitiaan terdiri Tim Pengarah dan Tim Pelaksana, beranggotakan unsur-unsur dari lembaga pemerintah tingkat pusat, kalangan dunia usaha nasional, dan masyarakat (organisasi profesi, akademisi, LSM, dsb). Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka HAD mencerminkan respon atas issue nasional dan global di bidang sumberdaya air.
2. Tingkat Daerah
Pelaksanaan peringatan HAD di daerah (Provinsi) diorganisasikan oleh Panitia Daerah yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur. Kepanitiaan terdiri Tim Pengarah dan Tim Pelaksana, beranggotakan unsur-unsur dari lembaga pemerintah daerah, kalangan dunia usaha lokal, dan masyarakat (organisasi profesi, akademisi, LSM) setempat. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka HAD merupakan aksi nyata penanganan masalah sumberdaya air di daerah yang bersangkutan, yang dapat berbeda antara propinsi satu dengan lainnya.
VI. Waktu dan Tempat
Peringatan Hari Air Dunia dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air, dengan berbagai kegiatan pendukung yang dapat dilaksanakan sebelum dan sesudah hari “H” (tanggal 22 Maret), serta menyelenggarakan Puncak Acara.
a.  Tingkat Nasional
Untuk tingkat nasional, Puncak Acara dilaksanakan di Ibukota Negara atau tempat lain dikaitkan dengan event dan obyek tertentu yang relevan dengan tema HAD tahun yang bersangkutan. Pada puncak acara ini diharapkan dapat dasampaikan Pidato Pemerintah dan Pencanangan suatu gerakan yang dinilai urgent dan memerlukan perhatian nasional.
Penetapan lokasi puncak acara dilakukan melalui seleksi Panitia Nasional atas calon lokasi yang diusulkan oleh Dinas PU / PSDA / Kimpraswil Provinsi. Proses penyiapan lokasi puncak acara HAD seyogyanya dilakukan sejak setahun sebelumnya, sehingga dapat dilakukan persiapan yang memadai.
b. Tingkat Daerah
Demikian halnya di tingkat daerah, Puncak Acara dapat dilaksanakan di Ibukota Provinsi, Kabupaten / Kota atau tempat lain sesuai dengan kepentingan atau isu yang menonjol didaerah yang bersangkutan, yang dipandang perlu diangkat ke permukaan atau diberikan perhatian khusus dalam upaya peningkatan pengelolaan sumberdaya air.
Mekanisme penetapan lokasi puncak acara mengikuti pola nasional, dengan skala daerah.
VI. Pembiayaan
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pemerintah mendorong pola pembiayaan peringatan HAD secara “sharing multi-stakeholders”, dimana seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha mempunyai andil dalam pembiayaan kegiatan dalam rangka peringatan Hari Air Dunia. Pola ini sangat tepat, mengingat air merupakan kepentingan semua pihak yang menuntut tanggung jawab bersama dalam pengelolaannya.
Dalam penyelenggaraan peringatan HAD, baik di tingkat pusat maupun daerah juga diharapkan dapat menerapkan pola tersebut, dengan lebih memperluas partisipasi sektor terkait baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha dan pihak-pihak lain dengan prinsip kemitraan (partnership) yang bersendikan kesetaraan (equity), keterbukaan (transparency), dan saling memperoleh manfaat (mutual benefit).

PEDOMAN  UMUM PENYELENGGARAAN PERINGATAN HARI AIR DUNIA (WORLD WATER DAY) KE-18 TAHUN 2010
“Communicating Water Qualitychalenges and Opportunities”

I. Latar Belakang

Adanya permasalahan air yang sedang dialami dunia ini telah mendorong dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian perlunya upaya bersama dari seluruh komponen bangsa dan bahkan dunia untuk dengan kebersamaan memanfaatkan dan melestarikan  sumberdaya air (SDA) secara berkelanjutan. 
Pengelolaan SDA seperti cara lama yang dilakukan sendiri-sendiri atau secara terbatas oleh instansi-instansi pemerintah dan para ahli bidang air sudah tidak dapat secara efektif mengatasi permasalahan. Pengalaman menunjukkan pengelolaan SDA yang berkelanjutan tidak mungkin dapat diselesaikan sendirian oleh pemerintah dan oleh karena itu perlu mengajak para pemangku kepentingan yang lain untuk berperan aktif bersama dengan pemerintah. 
Dengan kesadaran akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan baik masa kini maupun masa datang yang dibutuhkan oleh berbagai sektor, maka air merupakan urusan semua orang. Ungkapan “water is everybody business” yang telah mendunia menjadi semboyan bagi seluruh pihak dalam pengelolaan SDA. Untuk mengingatkan kita bahwa bumi kita yang yang terdiri dari tanah dan air merupakan anugerah Tuhan yang dapat menjadi sangat rapuh bila tidak kita pelihara dengan baik dan benar, maka kita dan semua negara anggota PBB memperingati  Hari Air Dunia (World Water Day) pada tiap tanggal 22 Maret.  Peringatan ini sebagai wahana untuk memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit.
Pada Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992 melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 diterima dan sekaligus ditetapkan pelaksanaan Hari Air Dunia pada setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati sejak tahun 1993 oleh para anggota PBB yang meratifikasi Agenda 21 tersebut. Tema-tema yang dipilih tiap tahun sejak tahun 1994 meliputi:

1994: “Caring for Our Water Resources is Everyone’s Business” (Peduli akan Sumberdaya Air adalah Urusan Setiap Orang);
1995:  “Water and Woman”  (Wanita dan Air);
1996:  “Water for Thirsty City” (Air untuk Kota-kota yang Kehausan);
1997:  “The World’s Water: is There Enough ?” (Air Dunia: Cukupkah ?);
1998: “Groundwater – the Invisible Resource” (Air Tanah Sumber Daya yang Tak Terlihat);
1999:  “Everyone Lives Downstream” (Setiap Orang Tinggal di Bagian Hilir); 
2000:  “Water for 21st Century (Air untuk Abad 21);
2001:  “Water for Health” (Air untuk Kesehatan);
2002:  “Water for Development “ (Air untuk Pembangunan);
2003:  “Water for Future” (Air untuk Masa Depan);
2004:  “Water and Disasters” (Air dan Bencana);
2005:  “Water for Life” (Air untuk Kehidupan);
2006:  “Water and Culture” (Air dan Budaya);
2007:  “Coping with Water Scarcity” (Mengatasi Kelangkaan Air).
2008:  “Sanitation” (Sanitasi).
2009:  “Transboundary Water; Shared Water, Shared Opportunities” (Air Lintas Batas, Berbagi Air, Berbagi tantangan).
2010:   “Clean Water for a Healthy World”.

1. Agenda 21

Meskipun Earth Summit tahun 1992 merupakan tonggak (milestone) penting, namun dimensi sosial dan lingkungan dari agenda dunia tentang air telah mulai terbentuk lebih awal yaitu pada tahun 1972 atau 2 tahun setelah dicanangkannya peringatan Hari Bumi, yaitu dalam the United Nations Conference on Human Environment yang diselenggarakan di Stockholm. Pada konferensi ini telah dideklarasikan bahwa pencemaran air telah mencapai tingkat yang membahayakan dan diperlukan upaya untuk melindungi sumberdaya alam bumi yang mencakup udara, air, tanah, serta flora dan fauna. Dalam kurun waktu 20 tahun kemudian diselenggarakan  The Dublin Conference on Water and the Environment (1992), yang melahirkan pandangan baru dunia tentang air atau yang sekarang disebut dengan “The Dublin Principle”  dimana “sustainability” / keberlanjutan menjadi prinsip penting dalam pengembangan sumberdaya air.
Dalam perkembangannya kemudian, The Dublin Principles ini menjadi referensi dari beberapa pandangan yang saling bersaing dalam pengembangan sumberdaya air. Disatu sisi, LSM dan organisasi relawan serta organisasi “civil society” lainnya cenderung menekankan pada prinsip, “affordable, equitable, dan basic right”, sedangkan organisasi-organisasi yang berorientasi kepada aspek ekonomi lebih menekankan kepada konsep “economic value and economic good”. Yang sebenarnya bila keduanya dikombinasikan akan dapat mencapai hasil optimum bagi nilai manfaat air.
Earth Summit telah diselenggarakan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, melahirkan Agenda 21 dan pada khususnya Chapter 18 yang terkait dengan sumberdaya air yang selanjutnya menjadi tonggak penting berkembangnya prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya air.  Selain secara tegas menyetujui dan meng-adopsi The Dublin Principles kedalam Agenda 21, Chapter 18 menyatakan bahwa “ sumberdaya air perlu dilindungi dengan mempertimbangkan fungsinya dalam ekosistem akuatik maupun peranannya sebagai sumber air, dalam rangka memenuhi dan mempertemukan antara pasokan dan kebutuhan akan air untuk kegiatan manusia”. Selanjutnya adalah diterimanya “the ecosystem approach” atau “pendekatan ekosistem” sebagai pendekatan yang rasional dan ilmiah dalam pengembangan sumberdaya air.
Selanjutnya dokumen UNCED ini mengelaborasi kebutuhan untuk “mempromosikan pendekatan multisektor yang dinamis dan interaktif yang perlu dilaksanakan pada tingkatan Daerah Aliran Sungai (DAS), wilayah sungai dan sub-wilayah sungai.” Dokumen ini juga menekankan perlunya untuk melindungi, mengkonservasi dan mengelola sumberdaya air berdasarkan pada prioritas dan kebutuhan masyarakat termasuk kelompok perempuan, pemuda dan penduduk asli/setempat dalam kerangka kebijakan pengembangan ekonomi nasional. Kepada kelompok masyarakat terkena dampak diberikan peranan yang syah (legitimate) dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan. Hal yang serupa adalah, dikenalinya riparian rights atas air untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia meskipun pada sungai lintas batas negara. Diantara berbagai kegiatan yang di-identifikasi, isu-isu yang dianggap penting lainnya adalah masalah-masalah pengelolaan sungai lintas batas negara, banjir dan kekeringan, dan asesmen serta analisa atas resiko-resiko. Hal penting lainnya adalah perlunya dikenali bahwa air permukaan dan air tanah hendaknya dipandang sebagai dua elemen yang saling bergantung satu sama lain (interdependent) dalam siklus hidrologi.
Dalam peringatan Hari Air Dunia setiap negara perlu merenungkan dan menghayati arti penting Air sebagai sumber kehidupan, serta bersama-sama mengamankan upaya-upaya yang arif dan bijaksana untuk mendaya-gunakan, melestarikan dan mengamankan sumberdaya air (SDA) yang merupakan milik bersama umat manusia.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam peringatan Hari Air Dunia dianjurkan agar Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten / Kota) bersama seluruh komponen stakeholders sumberdaya air (instansi-instansi terkait, organisasi profesi terkait dengan air, para pakar, LSM, organisasi pengguna, dan sebagainya), mengadakan kegiatan yang dapat meningkatkan kesadaran manusia dalam menyebarluaskan pelaksanaan Agenda 21 untuk pengembangan dan perlindungan SDA dengan penyampaian sambutan peringatan Hari Air Dunia dari Pemerintah, mengadakan seminar, dialog, penerbitan buku, penyebarluasan pamflet, pemberian penghargaan dan kegiatan semacam yang berkaitan.

2. International Decade for Action :  Water for Life 2005 – 2015

PBB menetapkan Tahun 2005 - 2015 sebagai “Water for Life Decade” (dasawarsa air untuk kehidupan). Hal ini tepat sekali, mengingat air merupakan kebutuhan hidup yang sangat vital bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Bahkan dapat dipastikan bahwa tanpa ada air, tidak akan ada kehidupan. Disisi lain sumber daya air global dewasa ini dalam kondisi krisis yang menuju kepada keadaan genting. Sumber kehidupan ini persediaannya terbatas dan semakin hari semakin terpolusi oleh kegiatan manusia sendiri, namun masih terlalu banyak orang yang tidak mempunyai akses ke air. Sekalipun air merupakan sumber daya yang terbatas, konsumsi air telah meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir dan kita gagal mencegah terjadinya penurunan mutu air. Pada saat yang sama, jurang antara tingkat pemakaian air di negara-negara kaya dan negara-negara miskin semakin dalam. Dewasa ini 1,8 milyar penduduk dunia tidak mempunyai akses ke air bersih dan hampir dua kali dari jumlah itu tidak mempunyai fasilitas sanitasi dasar yang memadai.
Selanjutnya dalam pemanfaatan sumberdaya air tersebut perlu ditingkatkan usaha-usaha konservasi, pengendalian daya rusak, dan pendayagunaan sumberdaya air melalui pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan dan berkeadilan.

3. Clean Water for a Healthy World

Setiap tahun, 1.500 km3 lebih air limbah diproduksi dunia. Air limbah yang mestinya dapat digunakan untuk energi dan irigasi, tetapi tidak dilakukan. Di Negara-negara berkembang, lebih dari 80 % air limbah tidak didaur ulang, dikarenakan tidak adanya regulasi dan sumber daya. Pertumbuhan penduduk dan industri menambah sumber polusi baru dan menurunkan keseimbangan akan kebutuhan air bersih. Ketersediaan air untuk kesehatan manusia dan lingkungan, air minum dan irigasi, serta pencemaran air saat ini dan mendatang masih merupakan isu penting.
Dalam rangka peringatan Hari Air Dunia Ke-18 Tahun 2010 ini diharapkan Departemen / Kementerian terkait dan Pemerintah Daerah dapat mendorong dan memfasilitasi berbagai kegiatan yag merupakan implementasi Kesepakatan Bersama tersebut di atas yang dikaitkan dengan fokus dekade Water for Life, sehingga terdapat kesinambungan antara kegiatan HAD setidaknya dalm 10 tahun. Adapun stressing upaya / kegiatan dalam rangka memperingati Hari Air Dunia pada setiap tahunnya disesuaikan dengan Tema Dunia untuk tahun yang bersangkutan yang ditetapkan oleh PBB.

III. Tujuan

Hari air dunia sangat  penting untuk memusatkan perhatian masyarakat pada berbagai isu penting, diantaranya:

  1. Meningkatkan kepedulian akan semakin menurunnya kuantitas dan kualitas air yang tersedia;
  2. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dan pelestarian serta perlindungan sumber-sumber air;
  3. Meningkatkan kerjasama antar badan-badan pemerintah, lembaga internasional, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sektor swasta dalam menjalankan program-program penyelamatan air;
  4. Meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha dalam konservasi, dan pemanfaatan air dan sumber air secara bijaksana.

 

IV. Ruang Lingkup Kegiatan

Berikut ini adalah berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan di masing-masing daerah agar instansi-instansi pemerintah bersama dengan berbagai lembaga mitra dapat mengembangkan kampanye peningkatan kesadaran dan peduli air. Kemitraan antar pemerintah (pusat-daerah), antar sektor, sektor swasta, LSM dan organisasi profesi dapat ditingkatkan melalui kolaborasi dan kerjasama dalam berbagai program, antara lain:

  1. Program advokasi mayarakat melalui media masa;
  2. Program kampanye peduli air dengan fokus anak sekolah dan remaja;
  3. Program penggalakan partisipasi masyarakat;
  4. Peningkatan dukungan sektor swasta melalui kerjasama dan partisipasi dengan pemerintah;
  5. Peningkatan kesadaran para pengambil keputusan baik di tingkat yudikatif, legislatif maupun eksekutif;
  6. Lomba foto, karya tulis di media masa, dan jajak pendapat (pooling);
  7. Penayangan di TV dan jumpa pers;
  8. Pemberian penghargaan yang berkaitan dengan tema HAD 2009.

 

Berbagai bentuk kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya:

 

  1. Advokasi melalui media masa; misalnya kolom khusus mengenai air di media cetak, slot program khusus di media elektronik, iklan layanan masyarakat, pemasangan spanduk dan poster, penyebaran pamflet, stiker, dan sebagainya.
  2. Kampanye Peduli Air; di kalangan dunia pendidikan (SD, SMP, dan SMU) teritegrasi dengan mata pelajaran terkait. Di kalangan remaja (karang taruna, kelompok pecinta alam), melalui aksi nyata penyelamatan air. Kepada masyarakat umum (melalui ceramah keagamaan, dan forum-forum lain yang relevan).
  3. Partisipasi masyarakat; melalui gerakan pelestarian daerah tangkapan air, penyelamatan sumber air, penerapan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya air terpadu dalam kehidupan sehari-hari (seperti pengelolaan sampah, penjernihan air, prinsip 4-R dsb), anjuran penggunaan air secara hemat (khususnya pertanian), pembuatan sumur resapan sederhana untuk type rumah tinggal, pembuatan situ, danau untuk kompleks perumahan, pembuatan reservoir dalam tanah untuk bagian perkotaan yang rendah, dll.
  4. Upaya peningkatan dukungan sektor swasta melalui kerjasama dan partisipasi dengan pemerintah; seperti kontribusi terhadap penyelenggaraan peringatan HAD itu sendiri, penyelamatan sumber air (misalnya: mata air, situ dll), penyelamatan bantaran sungai, penghijauan kawasan hulu, sumur resapan, ikut serta secara aktif dalam program penyelamatan air melalui usaha bidang perhutanan yang ramah lingkungan, dll
  5. Peningkatan kesadaran di kalangan Pengambil Keputusan; melalui Training of Trainers Program Pemasyarakatan Peduli Air, seminar,  lokakarya, dialog, sarasehan, dan sebagainya.
  6. Pemberian penghargaan (tahun-tahun sebelumnya dinamakan ”Apresiasi HAS”); kepada para perintis, pelopor, pengabdi bidang sumberdaya air, pembina dan pendukung, serta penemu teknologi tepat guna yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air terpadu.
  7. Perlombaan; untuk kalangan pers (seperti lomba karya foto dan karya tulis terbaik dikalangan media massa), di lingkungan pendidikan (seperti lomba lukis, karya tulis ilmiah remaja, cerdas cermat peduli air), dan masyarakat umum (seperti lomba bantaran sungai, pelestarian lingkungan, kebersihan, daur ulang limbah plastik).
  8. Pameran; menampilkan hasil-hasil pembangunan dan pengembangan bidang sumer daya air dari segenap stakeholders, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat (LSM, Organisasi Profesi,  Dunia Pendidikan, dan sebagainya).

 

Diusahakan agar semua kegiatan diatas adalah kegiatan yang terkait dengan tema nasional HAD 2009.

V. Pengorganisasian / Kepanitiaan

Penyelenggaran peringatan Hari Air Dunia perlu diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pengelolaan kegiatan dan mekanisme pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam 10 tahun kedepan diharapkan  peringatan HAD lebih bersifat nasional dan menjadi gerakan yang dilaksanakan diseluruh tanah air. Untuk itu diperlukan kepanitiaan tingkat nasional dan tingkat daerah.
Kepanitiaan diharapkan merepresentasikan seluruh stakeholders bidang sumber daya air, artinya semua unsur terkait terwakili, agar kegiatan peringatan HAD menjadi milik bersma, dan menjadi tanggung jawab semua untuk mensukseskannya.

1. Tingkat Nasional.
Pelaksanaan peringatan HAD tingkat nasional diorganisasikan oleh Panitia Nasional yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Kepanitiaan terdiri Tim Pengarah dan Tim Pelaksana, beranggotakan unsur-unsur dari lembaga pemerintah tingkat pusat, kalangan dunia usaha nasional, dan masyarakat (organisasi profesi, akademisi, LSM, dsb). Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka HAD mencerminkan respon atas issue nasional dan global di bidang sumberdaya air.

2. Tingkat Daerah
Pelaksanaan peringatan HAD di daerah (Provinsi) diorganisasikan oleh Panitia Daerah yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur. Kepanitiaan terdiri Tim Pengarah dan Tim Pelaksana, beranggotakan unsur-unsur dari lembaga pemerintah daerah, kalangan dunia usaha lokal, dan masyarakat (organisasi profesi, akademisi, LSM) setempat. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka HAD merupakan aksi nyata penanganan masalah sumberdaya air di daerah yang bersangkutan, yang dapat berbeda antara propinsi satu dengan lainnya.

VI. Waktu dan Tempat

Peringatan Hari Air Dunia dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air, dengan berbagai kegiatan pendukung yang dapat dilaksanakan sebelum dan sesudah hari “H” (tanggal 22 Maret), serta menyelenggarakan Puncak Acara.

a.  Tingkat Nasional

 

  • Untuk tingkat nasional, Puncak Acara dilaksanakan di Ibukota Negara atau tempat lain dikaitkan dengan event dan obyek tertentu yang relevan dengan tema HAD tahun yang bersangkutan. Pada puncak acara ini diharapkan dapat dasampaikan Pidato Pemerintah dan Pencanangan suatu gerakan yang dinilai urgent dan memerlukan perhatian nasional.
  • Penetapan lokasi puncak acara dilakukan melalui seleksi Panitia Nasional atas calon lokasi yang diusulkan oleh Dinas PU / PSDA / Kimpraswil Provinsi. Proses penyiapan lokasi puncak acara HAD seyogyanya dilakukan sejak setahun sebelumnya, sehingga dapat dilakukan persiapan yang memadai.

 

b. Tingkat Daerah

 

  • Demikian halnya di tingkat daerah, Puncak Acara dapat dilaksanakan di Ibukota Provinsi, Kabupaten / Kota atau tempat lain sesuai dengan kepentingan atau isu yang menonjol didaerah yang bersangkutan, yang dipandang perlu diangkat ke permukaan atau diberikan perhatian khusus dalam upaya peningkatan pengelolaan sumberdaya air.
  • Mekanisme penetapan lokasi puncak acara mengikuti pola nasional, dengan skala daerah.

 

VI. Pembiayaan

 

  • Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pemerintah mendorong pola pembiayaan peringatan HAD secara “sharing multi-stakeholders”, dimana seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha mempunyai andil dalam pembiayaan kegiatan dalam rangka peringatan Hari Air Dunia. Pola ini sangat tepat, mengingat air merupakan kepentingan semua pihak yang menuntut tanggung jawab bersama dalam pengelolaannya.
  • Dalam penyelenggaraan peringatan HAD, baik di tingkat pusat maupun daerah juga diharapkan dapat menerapkan pola tersebut, dengan lebih memperluas partisipasi sektor terkait baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha dan pihak-pihak lain dengan prinsip kemitraan (partnership) yang bersendikan kesetaraan (equity), keterbukaan (transparency), dan saling memperoleh manfaat (mutual benefit).

 


 
More articles :

» Urban Water Partnership Solves Local Issues

Experts workshop in South AsiaClimate change, food, and water securityThe GWP and the International Water Management Institute are organising a joint workshop on “Climate Change, food, and water security: Identifying critical issues and...

» Valentine, Stardust Kencani Tempel 1

Sangat kebetulan, tepat di hari Valentine ini, Senin 14/2/11, wahana luar angkasa Stardurst-NExT mendekati sasarannya komet Tempel 1.

» Water Investments Long Overdue

Experts workshop in South Asia Climate change, food, and water security The GWP and the International Water Management Institute are organising a joint workshop on “Climate Change, food, and water security:...

» The GWP Network Celebrates World Water Day

Experts workshop in South Asia Climate change, food, and water security The GWP and the International Water Management Institute are organising a joint workshop on “Climate Change, food, and water security:...

» GWP Zambia asked to use its ‘convening power’

Experts workshop in South Asia Climate change, food, and water security The GWP and the International Water Management Institute are organising a joint workshop on “Climate Change, food, and water security:...
Copyright © 2009 Kemitraan Air Indonesia. All Rights Reserved.Powered by Joomla!
Kemitraan Air Indonesia disiapkan oleh Bpiliang | Template Praise
Komp. Dep. PU Jl. Pattimura No. 20 Kav. 7 Gd. Dirjen SDA Lt. 8, Kebayoran Baru - Jakarta Selatan
Telp. 021-739 8604, 7396616 ext. 635 Fax. 021-739 8604
e-mail: sekretariat@inawater.org, sekretariatkai@yahoo.com