| Normalisasi Sungai Justru Sebabkan Banjir |
| Rabu, 25 Maret 2009 11:01 | |||
|
Jakarta (ANTARA News) - Program normalisasi sungai berupa pelurusan sungai dari yang sebelumnya berkelok-kelok, sebenarnya tidak mengatasi masalah, tetapi justru menambah permasalahan banjir di bagian hilir sungai. "Banjir di banyak kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo salah satunya disebabkan pelurusan. Normalisasi sebenarnya justru membuat tidak normal," kata pakar hidrologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa. Ketika pada 1994 Bengawan Solo mulai disodet (diluruskan) sepanjang 24,2km, kecepatan air mengalir yang sebelumnya hanya 1 meter per detik memang dipercepat menjadi 5 meter per detik, ujarnya. "Paradigma lama: makin cepat air dari hulu masuk ke laut, makin bagus, tapi ternyata hasilnya tidak seperti diharapkan. Di bekas kelokan-kelokan sungai malah tercipta kubangan-kubangan sarang penyakit, dan paling parah, membuat kawasan hilir jadi sering banjir, padahal kota-kota kebanyakan dibangun di hilir," katanya. Ia menuturkan, normalisasi sungai didasarkan pada paradigma abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-20 ketika dekadenya masih menggunakan hidrolika murni. Paradigma tersebut kini sudah ditinggalkan oleh negara-negara lain dan sejak 1980-an sudah berganti dengan paradigma restorasi atau mengembalikan sungai ke bentuk asalnya berkelok-kelok. Ia mencontohkan sungai Rhine di Jerman yang pada abad ke-18 sampai ke-19 diluruskan sekarang kembali dibuat berkelok-kelok seperti aslinya dahulu, demikian pula di AS dan Jepang, bahkan Malaysia. Karena itu pihaknya merasa prihatin pada master plan DAS Bengawan Solo dan sejumlah DAS lainnya yang masih menggunakan paradigma abad ke-18 bermaksud membangun banyak sodetan. Misalnya rencana menyodet Bengawan Solo di jalur Surakarta-Sragen, Madiun-Ngawi dan Cepu-Tuban yang akan membuat sungai terpanjang di Jawa dan melalui 20 kabupaten/kota itu menjadi lebih pendek.(*)
|
|||
| LAST_UPDATED2 |
More articles :
» 8,5 Juta Bibit Program OBIT Atasi Kerusakan Hutan
Sebanyak 8,5 juta bibit diperluakn untuk pelaksanaan program tanam semiliar pohon (One Bilions Indonesia Trees/OBIT) dapat mengatasi kerusakan hutan dan aliran sungai.
» Sultan: Dasar Sungai Code Harus Dikeruk
Dasar Sungai Code Yogyakarta harus segera dikeruk untuk mengantisipasi meluapnya sungai ini menyusul banjir lahar dingin Gunung Merapi, kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.
» 200 Korban Banjir Kampung Pulo Terjangkit ISPA
Elvan Dany Sutrisno - Jakarta - Setelah selama tiga hari menjadi korban banjir, warga Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, terjangkit peyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Korban yang mengungsi...
» Gara-gara Makanan, Ibu Korban Banjir Cueki Imbauan Istri Foke
Elvan Dany Sutrisno - Jakarta - Istri Fauzi Bowo, Tatiek, iba melihat bayi-bayi korban banjir. Tatiek meminta balita mungil itu diungsikan ke Puskesmas. Namun baru 30 menit, bayi-bayi itu dibawa kembali ke pengungsian. Orang tua si bayi kesal sebab...
» Pengelolaan Sampah Dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air Sungai Di DKI Jakarta
Pengelolaan Sampah Dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air Sungai Di DKI JakartaStatistik Penduduk Profil Daerah DKI Jakarta Tahun 2005 menunjukkan jumlah penduduk DKI Jakarta 9.041.605 jiwa. Jumlah itu diperkirakan menjadi dua kali lipat di siang...


